Perjalanan Hidupku Mengenal Islam Kaffah
Perjalanan Hidupku Mengenal Islam Kaffah
Seseorang pernah mengatakan bahwa setiap manusia pasti memiliki moment yang paling berkesan dalam hidupnya. Moment yang tak bisa dilupakan, bahkan mengucurkan air mata tatkala sang pemilik moment mengingatnya. Itulah moment yang mampu mengubah hidup menjadi lebih baik, bahkan perubahan tersebut bukan bagian dari rencana. “ Kegelisahan” adalah kata yang mewakili diriku dalam mencari apa sebenarnya Islam. Meskipun kegelisahan itu mulai terasa ketika duduk di sekolah menengah pertama, namun kegelisahan itu sangat terasa ketika menjadi mahasiswi di salah satu kampus di Yogyakarta, tepatnya semester 6. Bagi saya Jogja tempat yang benar-benar istimewa sesuai namanya Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tempat inilah saya mengenal apa itu Islam dan perjuangan awal saya untuk ikut dalam aktivitas dakwah . Saya ingin bercerita dari awal kegelisahan itu muncul sampai saya memahami tentang Islam, hingga saat ini masih terus menjadi pembelajar untuk memahami Islam secara keseluruhan. Meskipun mungkin banyak yang mengalami kejadian seperti ini.
Lahir dari keluarga yang masih mempercayai adat istiadat, mitos-mitos yang mengandung syirik, ekonomi rendah, pendidikan bukan prioritas serta lingkungan masyarakat yang jauh dari agama. Sebagai anak SD yang masih kecil dan belum berakal sempurna hanya bingung dan pasrah dengan keadaan yang ada. Menangis ketika menyaksikan hal yang membuat hati teriris, tertawa ketika melihat hal yang menggelikan hati, dan bingung ketika mendapati hal yang diluar logika manusia. Namun Allah seakan menunjukkan pada saya akan sebuah hidayah kelak, dimana saya memiliki guru favorit agama serta ikut lomba dalam pembacaan Alqur’an. Semua berlanjut hingga saya duduk di sekolah menengah pertama.
Rencana mulai berhijab di SMP gagal, dikarenakan rasa minder yang tinggi dan sulit untuk mengungkapkan keinginan. Berkenalan dengan banyak kalangan dan berbagai sifat yang sedikit membentuk karakter saya bahwa hidup enak harus punya uang dan banyak pergaulan. Memberanikan diri untuk ikut dalam sebuah organisasi, berharap dari sanalah akan mendapat banyak relasi serta ilmu lebih. Namun rasa minder itu terus ada. Hal sebab paling utama adalah keluarga yang penuh dengan konflik. Tidak adanya keyakinan dari oarang tua bahwa saya mampu menjadi seperti oang kota, bukan anak desa yang hidupnya seperti itu-itu saja tanpa ada harapan untuk sukses. Tiga tahun di SMP itulah muncul rasa bahwa kelak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hanya mimpi mungkin, bahkan mungkin halu.
Lulus SMP mulai mengingikan hal yang lebih dalam ketrampilan.. Libur kelulusan saya manfaatkan untuk les komputer dan belajar mengendarai motor. Saya juga ingin melanjutkan ke SMA favorit. Namun gagal karena kekhawatiran orang tua, dan terpaksa lanjut SMA di desa. Di SMA inilah saya mulai berhijab, di rumah sangat jarang, omongan tetangga dan tidak mendapatkan pendidikan tentang hijab. Berhijab di sekolah bukan karena paham hukumnya, namun karena rasa nyaman dan lebih terjaga. Di kelas XI saya lanjut les bahasa inggris, karena sudah yakin bahwa setelah lulus SMA lanjut ke perguruan tinggi, namun sayang informasi tentang kampus sangat sedikit dimiliki, lag-lagi karena rasa tak percaya diri. Tinggal di lingkungan sekolah yang teman-temannya berpacaran ditambah anak pondok juga berpacaran membuat saya merasa aneh. Islam yang sepemahaman saya mengharamkan pacaran justru orang-orangnya menganggap itu hanya sebatas teori. Yang lebih mengerikan adalah saat saya SMA dimana sedang meledaknya pornografi. Menyedihkan tatkala teman-teman banyak menyimpan video-video porno dan hamil di luar nikah. Bapakpun melarang pacaran, saat itu bukan atas dasar hukum agama namun takut akan hancurnya masa depan. Rusaknya moral serta tidak ada rasa malu pada perempuan membuat saya semakin bingung dengan keadaan, namun perasaan seperti ini hanya muncul sekejapan, mungkin lantaran tidak memiliki pemahaman dan juga solusi yang disumbangkan. Menjelang ujian nasional, tawaran bocoran jawaban dimana-mana. Hingga akhirnya satu kelas hanya empat orang yang jujur mengerjakan ujian, salah satunya adalah saya. Dalam pikir, semudah itu kah orang muslim berbuat dosa, di tambah ketika menjelang pengambilan foto untuk ijazah, hampir semuanya menanggalkan kerudungnya dengan alasan agar mudah mendapat kerja.
Tahun 2013 saya lulus dari SMA, lanjut kuliah jelas tujuan utama saya. Lagi-lagi orang tua tidak mengizinkan. Kalaupun harus lanjut kuliah harus di daerah tempat saya tinggal yaitu di Kebumen. Saya tidak mau terus begini, saya tidak mau menjadi seperti kebanyakan orang- orang di kampung. Sekolah-tidak bekerja-nikah. Alhamdulillah saya memiliki kakak perempuan yang mendukung saya untuk kuliah. Akhirnya saya memutuskan kuliah di Yogyakarta. Perjuanganku mempelajari Islam pun dimulai. Semester pertama, masih minder karena bergaul dengan banyak kalangan. Masih belum bisa memlilih teman. Semester ketiga mulai masuk organisasi kampus dan UKM. Namun salah bergaul yang saya dapatkan, nonton drama korea dan suka main ke kosan laki-laki adalah keseharian saya. Hingga saya tidak mengerti apa tujuan saya kuliah. Kegelisahan saya terus betambah ketika saya mulai peka dengan kondisi sekitar. Namun yang begitu terasa ketika saya melaksanakan ibadah namun tidak memahami esensi dari ibadah tersebut. Tepatnya sebuah pertanyan “mengapa saya harus beribadah’?
Mendekati semester keenam, ada moment dimana disitulah awal saya mengenal Islam yang sesungguhnya. Islam yang bukan hanya sekedar ibadah ritual, namun agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Merasakan kegelisahan yaang memuncak, yang harus segera mendapatkan penyembuhnya. Satu dalam pikir saya ‘doa’, meminta pada yang memberikan rasa kegelisahan. Berawal di masjid kampus, dalam sujud terakhir shalat dhuhur saya memohon kepada Allah dipertemukan dengan seseorang yang dapat mengajarkan saya Islam, seseorang yang mampu mengenalkanku kepada saya siapakah pencipta itu. Setelah salam kedua shalat, tiba-tiba seorang mahasiswi menyapa saya dan mengajak diskusi. Memberi satu petanyan yang membuat saya berpikir “Apa tujuan Allah menciptakan kita?”. Jawabku mudah “beribadah”. Sebuah jawaban yang sangat mudah kita ucapkan dan hafalkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Bagi saya pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang aneh. Hingga saya berpikir ini adalah jawaban doa saya dari Allah dengan menghadirkan seorang teman untuk mengenal Allah dan aturanNya. Sebab pembicaraan itu berlanjut kepada diskusi dan pembahasannya sampai kepada aturan Islam pada bidang sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga kepada tatanan kenegaraan. Bersambung. . .
Seseorang pernah mengatakan bahwa setiap manusia pasti memiliki moment yang paling berkesan dalam hidupnya. Moment yang tak bisa dilupakan, bahkan mengucurkan air mata tatkala sang pemilik moment mengingatnya. Itulah moment yang mampu mengubah hidup menjadi lebih baik, bahkan perubahan tersebut bukan bagian dari rencana. “ Kegelisahan” adalah kata yang mewakili diriku dalam mencari apa sebenarnya Islam. Meskipun kegelisahan itu mulai terasa ketika duduk di sekolah menengah pertama, namun kegelisahan itu sangat terasa ketika menjadi mahasiswi di salah satu kampus di Yogyakarta, tepatnya semester 6. Bagi saya Jogja tempat yang benar-benar istimewa sesuai namanya Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tempat inilah saya mengenal apa itu Islam dan perjuangan awal saya untuk ikut dalam aktivitas dakwah . Saya ingin bercerita dari awal kegelisahan itu muncul sampai saya memahami tentang Islam, hingga saat ini masih terus menjadi pembelajar untuk memahami Islam secara keseluruhan. Meskipun mungkin banyak yang mengalami kejadian seperti ini.
Lahir dari keluarga yang masih mempercayai adat istiadat, mitos-mitos yang mengandung syirik, ekonomi rendah, pendidikan bukan prioritas serta lingkungan masyarakat yang jauh dari agama. Sebagai anak SD yang masih kecil dan belum berakal sempurna hanya bingung dan pasrah dengan keadaan yang ada. Menangis ketika menyaksikan hal yang membuat hati teriris, tertawa ketika melihat hal yang menggelikan hati, dan bingung ketika mendapati hal yang diluar logika manusia. Namun Allah seakan menunjukkan pada saya akan sebuah hidayah kelak, dimana saya memiliki guru favorit agama serta ikut lomba dalam pembacaan Alqur’an. Semua berlanjut hingga saya duduk di sekolah menengah pertama.
Rencana mulai berhijab di SMP gagal, dikarenakan rasa minder yang tinggi dan sulit untuk mengungkapkan keinginan. Berkenalan dengan banyak kalangan dan berbagai sifat yang sedikit membentuk karakter saya bahwa hidup enak harus punya uang dan banyak pergaulan. Memberanikan diri untuk ikut dalam sebuah organisasi, berharap dari sanalah akan mendapat banyak relasi serta ilmu lebih. Namun rasa minder itu terus ada. Hal sebab paling utama adalah keluarga yang penuh dengan konflik. Tidak adanya keyakinan dari oarang tua bahwa saya mampu menjadi seperti oang kota, bukan anak desa yang hidupnya seperti itu-itu saja tanpa ada harapan untuk sukses. Tiga tahun di SMP itulah muncul rasa bahwa kelak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hanya mimpi mungkin, bahkan mungkin halu.
Lulus SMP mulai mengingikan hal yang lebih dalam ketrampilan.. Libur kelulusan saya manfaatkan untuk les komputer dan belajar mengendarai motor. Saya juga ingin melanjutkan ke SMA favorit. Namun gagal karena kekhawatiran orang tua, dan terpaksa lanjut SMA di desa. Di SMA inilah saya mulai berhijab, di rumah sangat jarang, omongan tetangga dan tidak mendapatkan pendidikan tentang hijab. Berhijab di sekolah bukan karena paham hukumnya, namun karena rasa nyaman dan lebih terjaga. Di kelas XI saya lanjut les bahasa inggris, karena sudah yakin bahwa setelah lulus SMA lanjut ke perguruan tinggi, namun sayang informasi tentang kampus sangat sedikit dimiliki, lag-lagi karena rasa tak percaya diri. Tinggal di lingkungan sekolah yang teman-temannya berpacaran ditambah anak pondok juga berpacaran membuat saya merasa aneh. Islam yang sepemahaman saya mengharamkan pacaran justru orang-orangnya menganggap itu hanya sebatas teori. Yang lebih mengerikan adalah saat saya SMA dimana sedang meledaknya pornografi. Menyedihkan tatkala teman-teman banyak menyimpan video-video porno dan hamil di luar nikah. Bapakpun melarang pacaran, saat itu bukan atas dasar hukum agama namun takut akan hancurnya masa depan. Rusaknya moral serta tidak ada rasa malu pada perempuan membuat saya semakin bingung dengan keadaan, namun perasaan seperti ini hanya muncul sekejapan, mungkin lantaran tidak memiliki pemahaman dan juga solusi yang disumbangkan. Menjelang ujian nasional, tawaran bocoran jawaban dimana-mana. Hingga akhirnya satu kelas hanya empat orang yang jujur mengerjakan ujian, salah satunya adalah saya. Dalam pikir, semudah itu kah orang muslim berbuat dosa, di tambah ketika menjelang pengambilan foto untuk ijazah, hampir semuanya menanggalkan kerudungnya dengan alasan agar mudah mendapat kerja.
Tahun 2013 saya lulus dari SMA, lanjut kuliah jelas tujuan utama saya. Lagi-lagi orang tua tidak mengizinkan. Kalaupun harus lanjut kuliah harus di daerah tempat saya tinggal yaitu di Kebumen. Saya tidak mau terus begini, saya tidak mau menjadi seperti kebanyakan orang- orang di kampung. Sekolah-tidak bekerja-nikah. Alhamdulillah saya memiliki kakak perempuan yang mendukung saya untuk kuliah. Akhirnya saya memutuskan kuliah di Yogyakarta. Perjuanganku mempelajari Islam pun dimulai. Semester pertama, masih minder karena bergaul dengan banyak kalangan. Masih belum bisa memlilih teman. Semester ketiga mulai masuk organisasi kampus dan UKM. Namun salah bergaul yang saya dapatkan, nonton drama korea dan suka main ke kosan laki-laki adalah keseharian saya. Hingga saya tidak mengerti apa tujuan saya kuliah. Kegelisahan saya terus betambah ketika saya mulai peka dengan kondisi sekitar. Namun yang begitu terasa ketika saya melaksanakan ibadah namun tidak memahami esensi dari ibadah tersebut. Tepatnya sebuah pertanyan “mengapa saya harus beribadah’?
Mendekati semester keenam, ada moment dimana disitulah awal saya mengenal Islam yang sesungguhnya. Islam yang bukan hanya sekedar ibadah ritual, namun agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Merasakan kegelisahan yaang memuncak, yang harus segera mendapatkan penyembuhnya. Satu dalam pikir saya ‘doa’, meminta pada yang memberikan rasa kegelisahan. Berawal di masjid kampus, dalam sujud terakhir shalat dhuhur saya memohon kepada Allah dipertemukan dengan seseorang yang dapat mengajarkan saya Islam, seseorang yang mampu mengenalkanku kepada saya siapakah pencipta itu. Setelah salam kedua shalat, tiba-tiba seorang mahasiswi menyapa saya dan mengajak diskusi. Memberi satu petanyan yang membuat saya berpikir “Apa tujuan Allah menciptakan kita?”. Jawabku mudah “beribadah”. Sebuah jawaban yang sangat mudah kita ucapkan dan hafalkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Bagi saya pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang aneh. Hingga saya berpikir ini adalah jawaban doa saya dari Allah dengan menghadirkan seorang teman untuk mengenal Allah dan aturanNya. Sebab pembicaraan itu berlanjut kepada diskusi dan pembahasannya sampai kepada aturan Islam pada bidang sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga kepada tatanan kenegaraan. Bersambung. . .
Komentar
Posting Komentar